Waktu selalu sama
Langit
senja habis di makan malam, cahaya kendaraan menghiasi jalan.
Termenung di cafe bukan suatu alasan, meminum satu kaleng coke tanpa
gula sambil memandang jalan. Pulang setelah lembur, rasanya tubuh
seperti habis bertempur. Menuju transjakarta, membawa totebag berisi
buku kerja. Angin dingin berhembus, dinginnya menusuk tulang.
Perlahan kendaraan pergi, habis di makan lengang. Aku meneguk lagi,
menunggu bis yang tak kunjung datang.
'Waktu selalu sama..'
Pengamen datang dengan lagu karangan, namun ramai halte tak menghiraukan.
'Tak ada yang berubah..'
Aku membuang kaleng, berjalan menuju ke dalam bus. Pengamen itu masih bernyanyi, walau para pendengar sudah pergi. Kantuk melanda, kesadaranku hampir tiada. Benar kata pengamen itu, waktu selalu sama.
'Tak ada yang berubah..'
Bus melaju, lamat-lamat suara itu hilang ditelan waktu.

Komentar
Posting Komentar